Blogroll

Search This Blog

Powered by Blogger.

Pages

About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, October 17, 2013

Sejarah Penyebaran Islam di Tajikistan

Tajikistan adalah sebuah negara kecil dengan luas daratan sekitar 143.100 km ².



Wilayah Tajikistan berbatasan langsung dengan Cina (timur), Uzbekistan (barat), Afghanistan (selatan), dan Kyrgyzstan (utara).

Dengan jumlah penduduk sekitar 7.320.000 orang pada tahun 2006, Tajikistan termasuk negara dengan kepadatan penduduk terendah di dunia.

Dushanbe menjadi ibu kota negara sejak tahun 1929, meskipun tidak ada perkembangan besar di kota tersebut sampai tiga puluh tahun terakhir.

Bahkan hingga sekarang Dushanbe lebih mirip sebuah desa pegunungan dibandingkan ibu kota, dengan mayoritas bangunan jarang mencapai lebih dari tiga lantai.

Republik Tajikistan yang sebelumnya bernama Republik Sosialis Soviet Tajik baru merdeka pada tahun 1991 seiring keruntuhan Uni Sovyet. Sebelum itu, Tajikistan merupakan bagian dari Uni Soviet.

Daerah yang kini menjadi Tajikistan telah dihuni selama setidaknya 6000 tahun, pertama oleh Persia, kemudian oleh Arab, dan akhirnya oleh bangsa Mongol.

Ketiga kerajaan tersebut umumnya menggunakan wilayah Tajikistan sebagai rute perdagangan alternatif dan menjadi salah satu pilihan tempat tinggal bagi penduduk kota yang sudah terlalu padat.

Di bawah kekuasaan Uni Soviet, Tajikistan menjadi salah satu negara bagian yang miskin dan kurang berkembang.

Bahkan setelah kemerdekaan pada tahun 1991, Tajikistan tidak kunjung bisa berkembang akibat perang saudara yang berlangsung selama hampir delapan tahun.

Tajikistan saat ini merupakan negara kesatuan dengan pemerintah pusat memiliki kontrol penuh untuk semua urusan kenegaraan.

Tajik adalah kelompok etnis utama di Tajikistan dengan sebagian besar penduduk mengikuti keyakinan Sunni Islam.

Sekitar sepuluh persen dari total populasi Tajikistan berasal dari Rusia atau keturunan Uzbekistan.

Persentase ini jauh lebih rendah dibandingkan sepuluh tahun yang lalu karena banyaknya anggota etnis tersebut pulang ke negara asalnya untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Pada tahun 2006, pendapatan per kapita Tajikistan hanya sebesar 1.388 dolar Amerika yang menempatkannya sebagai negara ke-156 termiskin di dunia, di belakang banyak negara Afrika.

Sebagai perbandingan, pendapatan per kapita Rusia berada di urutan ke-60 dan Belarus di tempat ke-72.

Industri utama Tajikistan meliputi aluminium dan kapas, tetapi sektor swasta masih kurang berkembang.

Negara ini masih tergantung pada bantuan asing untuk mempertahankan industri lokal.[]

SEJARAH Menyusuri Peradaban Islam di Uzbekistan : Proses Penyebaran

TEMPAT SUCI KAUM MUSLIM - Di sebuah tempat terpencil di perbukitan Jizzax, Uzbekistan, terdapat tempat suci bagi kaum Muslim. Di tempat inilah panglima perang Nabi Muhammad SAW, Said ibnu Abu Vaggos, pernah tinggal lama dan meninggalkan bagian jarinya yang terpotong. Air dan ikan di danau alam ini dianggap sebagai air dan ikan suci/keramat sehingga tetap terpelihara meski telah berusia lebih dari 10 abad. (Foto: Kompas/Rakaryan Sukarjaputra)***

SEJARAH

Menyusuri Peradaban Islam di Uzbekistan

Oleh DennySega24

Uzbekistan, bagi umumnya warga Indonesia, bisa dipastikan adalah nama yang asing. Padahal, sejarah menunjukkan justru para ulama dari negara inilah yang menjadi motor penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, melalui para wali yang kita kenal hingga saat ini. Di kalangan warga Uzbekistan, nama Indonesia bahkan cukup populer.

Bagi mereka yang pernah membaca atau mendengar sebuah hadis, nama Imam Bukhari (810-870) pastilah bukan nama yang asing. Beliau dianggap sebagai salah satu penyampai hadis yang diakui kesahihannya. Beliau adalah putra Bukhara, salah satu provinsi di wilayah barat Uzbekistan.

Ibnu Sina (980-1037), yang dikenal sebagai filsuf dan ahli medis modern pada zamannya, juga kelahiran Afsyahnah, dekat Bukhara, Uzbekistan. Karyanya yang sangat terkenal, yaitu Qanun fi Thib, menjadi rujukan di bidang kedokteran selama beberapa abad, termasuk di Indonesia. Dunia Barat mengenal dia dengan nama Avicenna.

Sejarah para wali sembilan penyebar agama Islam di Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dari Uzbekistan karena beberapa di antara para wali itu memiliki kaitan langsung dengan negara di Asia Tengah tersebut.

Sisa-sisa peninggalan peradaban Islam masih banyak tegak berdiri di negara yang pernah menjadi bagian dari Uni Soviet itu meski pernah diabaikan, bahkan dibiarkan rusak oleh penguasa Soviet dulu. Ornamen-ornamen Islam yang banyak dipengaruhi Persia (Iran), dengan warna-warna biru yang menonjol, tersebar di banyak tempat, menunjukkan kekhasan arsitektur pada masa abad ke-11 hingga ke-17 Masehi. Wajarlah bila badan dunia PBB untuk perlindungan kekayaan budaya, UNESCO, menobatkan Samarkand sebagai salah satu kota warisan sejarah dunia, sejajar dengan Istanbul di Turki.

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai keislaman juga tertanam dalam kehidupan rakyat Uzbekistan. Ketika bertemu dengan seseorang, baik yang telah dikenal maupun yang belum dikenalnya, warga Uzbek biasa menyapa dengan salam ”assalamualaikum”, sambil menaruh telapak tangan kanannya di dada sebelah kiri. Lebih jauh dari itu, penghormatan mereka yang tinggi terhadap para tamu dan keakraban yang mereka tunjukkan dengan tulus adalah pengamalan nyata ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Peradaban Islam

Sebagai negara berpenduduk mayoritas pemeluk Islam, yaitu sekitar 85 persen dari populasi Uzbek yang mencapai 27,5 juta jiwa, nilai-nilai keislaman pernah mendapatkan tekanan sangat berat ketika wilayah itu berada di bawah kekuasaan Soviet. Akan tetapi, tekanan yang berat justru membuat nilai-nilai keislaman itu tertanam dalam pada warga Uzbekistan. Maka, begitu Uzbekistan mendeklarasikan kemerdekaannya pada 31 Agustus 1991, berbagai peninggalan peradaban Islam langsung dibenahi kembali dan hingga kini menjadi sumber daya tarik utama bagi kunjungan wisatawan ke negara itu.

Peradaban Islam masuk ke wilayah yang saat ini disebut Uzbekistan pada sekitar abad kedelapan lalu. Ketika itu pasukan kekhalifahan Arab dari Persia menguasai Mawarannahr (lahan yang berada di antara sungai), yaitu wilayah di antara Sungai Amudarya dan Sungai Syrdarya. Masuknya pasukan kekhalifahan Arab itu membawa ajaran Islam, yang langsung bisa diterima rakyat setempat.

Akan tetapi, jauh sebelum itu, beberapa abad sebelum Masehi, beberapa suku nomad dari Iran telah lebih dahulu tiba di wilayah yang sekarang bernama Uzbekistan itu. Mereka membangun kota-kota dan jaringan irigasi untuk menjadikan lahan padang rumput di wilayah itu lahan pertanian produktif. Kota Bukhara dan Samarkand pun mulai muncul sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan.

Dalam perjalanan menuju India, pada 327 sebelum Masehi, Raja Alexander yang Agung pun sempat singgah di wilayah Uzbekistan, khususnya di wilayah yang dahulu bernama negara-negara Soghdian dan Bactrian. Akan tetapi, perlawanan rakyat kemudian membuat pasukan Alexander Agung harus mundur dan wilayah yang kini bernama Uzbekistan kemudian dikuasai oleh kekaisaran-kekaisaran Persia, yaitu Parthian dan Sassanid.

Masuknya Islam melahirkan sejumlah filsuf cemerlang, seperti Abu Nasr Farabi, Imam al-Bukhari, Narshaki, Nadjimmiddin Kubro, Abu Ali ibnu Sina, serta para penyair seperti Rudaki, Yusuf khas Khadjib, Ahmad Yassavi, dan Abu Bakr-al-Khorezmi. Gerakan baru Islam pun berkembang pesat karena keistimewaan yang dimilikinya, antara lain kebebasan berpikir atau dikenal sebagai Mutaziliya, Ismailiya, dan Sufisme.

Kota-kota Bukhara, Samarkand, Merv, Urgench, dan Kiva sangat terkenal di kalangan negara-negara Muslim. Karya-karya seni, arsitektur, dan proyek-proyek konstruksi berkembang cepat menandakan kejayaan kekhalifahan Islam.

Pada awal abad ke-11, atas arahan Mamun Khorezm-Shakh, sebuah pusat riset baru didirikan di Khorezm, di mana para ilmuwan orientalis bekerja. Pusat riset ini belakangan didedikasikan untuk Khorezm-Shakh dan menjadi akademi pertama di Asia Tengah.

Kebudayaan dan ilmu pengetahuan dari wilayah yang kemudian diberi nama Mawarannahr pun terkenal ke seluruh dunia. Akan tetapi, pertumbuhan cepat Mawarannahr itu terhenti pada awal abad ke-13 akibat invasi Mongol ke wilayah itu. Pemimpin Mongol, Genghis Khan, menghancurkan seluruh kota, jaringan infrastruktur irigasi, dan sumber-sumber pustaka budaya dari periode abad kedua dan ketiga Masehi. Perjuangan untuk membebaskan diri dari pendudukan asing dilakukan selama setengah abad pada abad ke-14. Salah satu tokoh penting dalam perjuangan itu adalah Amir Temur, yang setahap demi setahap bisa membebaskan wilayah Mawarannahr dan Khorasan dari penguasa Mongol. Pada akhir abad ke-14, sebuah negara baru yang kuat dengan wilayah luas pun terbentuk.

Amir Temur menekankan betul pentingnya kekuatan politik, ekonomi, dan pertumbuhan budaya. Prinsip-prinsip pengelolaan sebuah negara dia gambarkan dalam dokumen yang dikenal sebagai The Code of Temur. Setelah ditinggalkan Amir Temur, para keluarga penerus Temur memberikan perhatian besar terhadap pemajuan kesenian, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Oleh karena itulah Amir Temur menjadi sosok sangat penting dalam sejarah rakyat Uzbekistan, yang sekaligus meneruskan lagi kejayaan Islam di wilayah yang dikuasainya.

Pemerintah Uzbekistan membangun sejumlah patung Amir Temur di hampir semua kota besar di Uzbekistan. Di ibu kota Tashkent, misalnya, patung Amir Temur antara lain terdapat di sebuah lapangan di pusat kota, berdampingan dengan sebuah museum khusus Amir Temur di seberang lapangan tersebut.

Arsitektur yang khas

Uzbekistan saat ini memiliki sejumlah peninggalan masjid dan madrasah maupun pemakaman yang memiliki ciri arsitektur Islam yang khas. Selain bentuknya yang hampir seragam, berbagai bangunan yang didirikan dengan bahan baku utama batu bata merah itu juga kaya dengan ornamen Islam, baik dalam bentuk tulisan-tulisan arab maupun pola-pola garis dan bentuk.

Bangunan peninggalan peradaban Islam itu bentuknya berbeda sekali dengan bentuk-bentuk bangunan peninggalan peradaban Islam yang ada di Turki. Melihat arsitektur bangunan tersebut, dengan pola-pola tembok pintu gerbang yang dibangun tinggi, dengan menara di kedua sisinya yang tak kurang dari 20 meter, kita akan terpukau akan kehebatan para arsitek dan ahli bangunan pada abad ke-11-17 tersebut.

Lebih dari itu, di Uzbekistan, khususnya Tashkent, kita bisa melihat sebuah Al Quran asli peninggalan khalifah Usman bin Affan pada abad ketujuh. Al Quran yang di sisinya masih terlihat bekas-bekas darah itu menjadi koleksi sangat berharga sekaligus bukti kuatnya peradaban Islam di negara itu pada masa lalu.

Sangat pantas bila Uzbekistan kini memanfaatkan berbagai peninggalan peradaban Islam tersebut sebagai daya tarik utama bagi wisatawan ke negara itu. Wisata ziarah ke makam para tokoh besar Islam yang ada di Uzbekistan bisa semakin meningkatkan kadar ketakwaan, sekaligus semakin memberikan pemahaman mendalam mengenai ajaran-ajaran Islam dan kebesaran Islam.

Kemerdekaan dari Soviet telah membangkitkan kembali nilai-nilai keislaman di negara itu. Seperti halnya di Indonesia, nilai-nilai Islam tersebut tampil dalam wujud Uzbekistan yang lebih terbuka, ramah, dan menghormati para tamunya, persaudaraan yang kuat di antara warganya, serta terus berupaya berdemokrasi untuk membangun sebuah negara yang kuat dan meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyatnya.***

Sejarah Islam Di Azerbaijan : Proses Penyebarannya


Sebagaimana Republik Georgia, bila tidak ada perestroika (reformasi) yang dicanangkan oleh Mikhail Gorbachev, mantan Presiden Uni Soviet dekade 90-an yang lalu, maka Republik Azerbaijan, tak mudah dikenali seperti saat ini. Azerbaijan dikenal sebagai sebuah negara di semenanung Balkan (sepenggal wilayah Eropa) yang mayoritas penduduknya beragama Islam sejak tahun 642 Masehi. Konflik berkepanjangan dengan Armenia, negara tetangganya, terjadi karena masalah Nagorno-Karabakh yang menyita perhatian dunia pada tahun 1980 hingga saat ini, suatu wilayah di Azerbaijan yang didominasi oleh penganut Kristen Ortodox.

Dengan luas wilayah 86.600 km2, sedikit lebih kecil dari negara bagian Maine Amerika Serikat, Republik Azerbaijan mempunyai iklim kering dengan padang rumput yang luas. Negara ini berbatasan dengan Rusia, Iran, Armenia, dan Laut Caspia. Berpenduduk sekitar 7.911.974 orang, terdiri dari berbagai suku, antara lain Azeri, Dagestan, Rusia, Armenia, mayoritas beragama Islam (93,4%), Kristen Ortodox (4,8%) dan lainnya 1,8%. Angka pertumbuhan penduduk rata-rata di bawah 0,59% per-tahun, angka kelahiran 10,4 per-1000, dan angka kematian 9,86 per-1000. Bahasa nasional mereka adalah Azerbaijan, di samping bahasa Rusia, dan Armenia.

Ekonomi
Azerbaijan adalah negara baru bekas jajahan Uni Sovyet yang termasuk beruntung mempunyai sumber cadangan minyak yang cukup besar, dan oleh karenanya menjadi sumber devisa nomer satu bagi Azerbaijan. Kegiatan utama perekonomiannya didominasi oleh bidang jasa (40,2%), industri (45,7%) dan pertanian (14,1%). Azerbaijan termasuk negara yang sukses dalam mengembangkan perekonomiannya, dan tidak memerlukan uluran tangan dari lembaga-lembaga keuangan dunia, seperti IMF maupun Bak Dunia. Walaupun tanpa bantuan lembaga keuangan dunia, Azerbaijan cukup mampu mengendalikan inflasi. Indikatornya adalah pertumbuhan ekonominya cukup fantastik mencapai sekitar 9,8% (2004), inflasi hanya sebesar 4,6% dan income per-kapita sebesar US $ 3,800. Dengan angkatan kerja sebanyak 5,09 juta orang, 41% diserap oleh pertanian dan kehutanan, jasa 52% dan industri 7%, Sebagaimana Georgia, Azerbaijan termasuk negara yang cukup kaya di Eropa Timur.
Produk pertaniannya berkisar pada kapas, padi-padian, beras, anggur, buah-buah-buahan, sayuran, teh, tembakau, ternak kambing dan domba serta babi. Sedangkan industrinya berkisar pada minyak dan gas, baja, biji besi, semen, kimia dan petrokimia serta tekstil. Hasil komoditi yang dieksport minyak dan gas (90%), mesin, kapas, dan makanan olahan. Negara tujuan eksport adalah Italia, Ceko, Jerman, Turki, Rusia, Georgia dan Perancis. Sedangkan komoditi yang diimport adalah mesin dan peralatannya, produk minyak, makanan olahan, dan kimia. Import berasal dari Inggris, Turki, Rusia, Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Italia dan Ukraina. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang yang digunakan adalah Azerbaijan Manat (AZM), dan US $ 1,- senilai 4,913.48 AZM.

Sejarah Pemerintahan
Republic Azerbaijan dengan ibukotanya BAKU, terbagi dalam 59 rayons, 11 cities dan 1 republik otonom, memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tanggal 30 Agustus 1991, sedangkan hari nasional diperingati setiap tanggal 28 Mei. Karena didasarkan pada berdirinya Republik Demokratik Azerbaijan pada tanggal 28 Mei 1918. Sejak abad ke-10 sebelum Masehi, Azerbaijan telah diperintah oleh beberapa kerajaan, antara lain Mannai dan Medes. Kerajaan Medes yang berbasis pada penduduk Indo-Eropa kuno lebih berjaya, namun kejayaan kerajaan ini mengundang kerajaan lain di luar Azerbaijan untuk mengekspansi, antara lain dari Persia, Yunan, Roma dan Albania. Puncaknya adalah ketika tentara Arab (Islam) menyerbu Azerbaijan pada abad ke-7 (642 M.), menaklukkan tentara Kristen. Selanjutnya Azerbaijan dikuasai oleh Turki pada abad ke-11 hingga abad ke-18, dan pada akhirnya Rusia (Uni Sovyet) menganeksasinya hingga abad ke-20.

Uni Sovyet mendominasi Azerbaijan cukup lama, dua abad lamanya. Mereka menguasai pemerintahan dan bisnis minyak, sehingga orang-orang Azeri terpinggirkan, dan hanya menguasai sektor swasta. Bibit untuk memperoleh kemerdekaan dari Uni Sovyet dimulai pada tahun 1903 ketika para intelektual Azeri membentuk badan yang disebut Himmat dan berubah menjadi Musavat pada tahun 1912. Ketika terjadi Revolusi Bolshevik tahun 1917, orang-orang Rusia dan Armenia (kebanyakan tinggal di Nagorno-Karabakh, yang kemudian hari bentrok dengan pemerintah Azerbaijan) yang berada di Azerbaijan mendeklarasikan republik marxis, sedangkan para nasionalis muslim mendirikan Republik Demokratik Rakyat Azerbaijan pada bulan Mei 1918, sekaligus membentuk tentara Islam dengan bantuan pemerintahan Ottoman Turki.

Invasi Uni Sovyet ke Azerbaijan dilakukan pada tahun 1922 dan berkuasa secara mutlak selama 71 tahun hingga tahun 1991, dan selama itu pula, mereka mengontrol politik dan ekonomi Azerbaijan secara ketat. Presiden komunis pertama Azerbaijan adalah Nariman Narimanov, namun beliu akhirnya dibunuh oleh agen Stalin pada tahun 1925, dan untuk selanjutnya Azerbaijan di bawah cengkeraman Moskow. Pada tahun 1969, muncul pemimpin baru yaitu Heydar Aliyev, pemimpin Partai Komunis Azerbaijan, dan menjadi anggota penuh politbiro Uni Soviet tahun 1982, menjadi tokoh penting Azerbaijan. Peristiwa penting lain di Azerbaijan adalah ketika Nagorno-Karabakh yang mayoritas penduduknya orang-orang Armenia ingin memisahkan diri dari Azerbaijan dan ingin bergabung dengan Armenia pada tahun 1980. Tentu saja hal tersebut ditolak oleh pemerintah Uni Soviet, walaupun trend glasnost dan perestroika sedang marak di seluruh kekuasaan Uni Soviet tahun 1988. Akibatnya terjadi bentrok dahsyat antara orang-orang Armenia dan Azeri. Pada Januari 1990, tank-tank Soviet menyerang ibukota Baku untuk melindungi orang-orang Armenia. Kejadian ini dikenal dengan Black Januari, yang menewaskan kurang lebih 100 orang Azeri, dan akibatnya banyak orang Armenia dan Azeri meninggalkan Azerbaijan.

Karena terjadi eskalasi perang dalam skala penuh, maka pada bulan Agustus 1991, Ayaz Mutalibov, mendeklarasikan berdirinya Republik Azerbaijan, dan beliau sekaligus diangkat sebagai Presiden pertama setelah berakhir invasi Uni Soviet. Namun persoalan Nagorno-Karabakh tetap menjadi duri dalam daging, karena pada tahun itu juga orang-orang Armenia menyerang orang-orang Azeri dan menewaskan tak kurang 600 orang.

Pada Juni 1992 diadakan pemilihan presiden, dan Abulfaz Elchibey terpilih sebagai presiden. Namun pada pemerintahan Elchibey, kondisi Azerbaijan tidak semakin membaik, justru timbul chaos, pertama karena masalah Nagorno-Karabakh, dan kedua karena peran militer yang tidak kondusif. Akhirnya, National Council pada Juni 1993 menunjuk Heydar Aliyev, mantan anggota KGB dan pemimpin Partai Komunis Azerbaijan sebagai Presiden menggantikan Elchibey. Pada bulan Oktober 1993, ketika pemilihan presiden diselenggarakan walaupun terjadi boikot, Heydar Aliyev memperoleh suara sebanyak 98.8%, dan terpilih sebagai presiden. Pada pemerintahan Heydar Aliyev inilah situasi Azerbaijan agak tenang, walaupun diselingi adanya kudeta dan terbunuhnya 20.000 orang dan jutaan lainnya menjadi pengungsi pada tahun 1994 karena masalah Nagorno-Karabakh. Heydar Aliyev terpilih kembali sebagai presiden pada tahun 1998.

Karena kondisi kesehatannya, pada pemilu Oktober 2003, Heydar Aliyev merekomendasikan putra lelakinya, Ilham Aliyev untuk mengikuti pemilihan presiden, dan terbukti Ilham Aliyev dapat memenangkannya dan pada tanggal 31 Oktober 2003 dikukuhkan sebagai Presiden Azerbaijan. Sayangnya, Heyder Aliyev tak dapat melihat lebih lama putranya menjadi presiden, karena pada tanggal 12 Desember 2003 beliau wafat di sebuah klinik di Cleveland, Ohio Amerika Serikat. Ilham Aliyev dipuji oleh banyak orang (walaupun mantan playboy), karena kecerdasannya, murah senyum dan speaks fluent English, serta mempunyai link khusus dengan CIA, di samping mewarisi karisma ayahnya.

Perkembangan Islam di Azerbaijan
Sebagaimana dirilis oleh Wikipedia, the free ecyclopedia, Islam masuk ke Azerbaijan pada abad ke-7 (tahun 642), bertepatan dengan invasi Arab ke negara tersebut dan secara berangsur-angsur menggantikan posisi Zoroaster dan aliran animisme di negara tersebut, hingga jumlah pemeluknya mencapai 96% dari total penduduk. Imperium Bani Seljuk Turki pada abad ke-10 masuk ke Azerbaijan dan mengalahkan imperium Byzantium pada abad ke-11 dan terjadilah kawin campur antara bangsa Turki dan Persia. Pada abad ke-13, Mongol masuk Azerbaijan ketika Temudjin atau Genghis Khan.

Kejayaan Islam di Azerbaijan semakin terasa, ketika Dinasti Safavid berkuasa di Azerbaijan pada abad ke-15. Shah (raja) pertama dinasti Safavid, yaitu Shah Ismail I (1486-1524) mendeklarasikan paham Syiah Islam sebagai agama resmi negara, walaupun mayoritas penganut Islam di Azerbaijan adalah Sunni. Hal ini menimbulkan ketidaksenangan pemerintahan Ottoman Turki yang menganut paham sunni.

Pada abad ke-19, banyak warga muslim sunni Azeri bermigrasi dari Rusia ke Azerbaijan, namun jumlah penganut Syiah pada akhir abad ke-19 terlanjur menjadi mayoritas di Azerbaijan (70%), sedangkan Sunni 30%. Para penganut Syi’ah maupun Sunni, akhirnya bersepakat untuk mengurangi ketegangan dan lebih menjunjung perasaan nasionalismenya sebagai warga Azerbaijan. Ketika Uni Soviet menginvasi Azerbaijan pada tahun 1806, dan menjadi bagian tak terpisahkan dengan Uni Soviet tahun 1920, di Azerbaijan terdapat 2.000 masjid. Namun sedihnya, setelah Uni Soviet menguasai Azerbaijan dan pengaruh komunis Soviet sangat mendalam, maka keberadaan Islam di Azerbaijan tercabik-cabik, sehingga pada tahun 1930 sampai perang dunia kedua, banyak masjid yang ditutup. Hal ini berlanjut hingga tahun 1980, sehingga masjid di ibukota Baku saja hanya tingal 2 (dua) masjid besar dan 5 (lima) masjid kecil.

Alhamdulillah, ketika Azerbaijan memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tahun 1991, kehidupan agama Islam bangkit kembali. Pembangunan masjid dan pembelajaran terhadap Islam tumbuh pesat, serta bantuan dari negara Islam, seperti Saudi Arabia, Iran dan Oman masuk dengan deras. Namun pengaruh Uni Soviet tetap terasa. Indikatornya, walaupun Islam dipeluk oleh 96% warga Azerbaijan, negara tidak otomatis mengadopsi Islam sebagai dasar negara. Pada Artikel 6 Undang-Undang Dasar Azerbaijan disebutkan bahwa ‘Azerbaijan adalah negara sekuler’. Demikian pula peran politikus Islam, sangat terbatas, baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Artikel ini telah dimuat di majalah Amanah No. 66 TH XIX Oktober 2005 / Sya’ban – Ramadhan 1426 H

Proses Penyebaran Islam di Georgia



Seandainya tidak ada perestroika (reformasi) yang dicanangkan oleh Mikhail Gorbachev, mantan Presiden Uni Soviet dekade 90-an yang lalu, maka Republik Georgia dan negara-negara di wilayah Balkan, tak akan pernah merdeka dan mungkin tak banyak dikenal secara luas seperti saat ini. Georgia dikenal sebagai negara pegunungan, karena dikelilingi oleh Pegunungan Kaukasus yang agung, sehingga menumbuhkan banyak sungai yang bermuara di Laut Hitam dan Laut Kaspia. Orang-orang Georgia menyebut dirinya sebagai Kartvelebi, nama Georgia diberikan oleh para penduduk Eropa Barat, karena Santo (orang suci Katholik) St. George berasal dari daerah itu. Kerajaan kuno di Georgia telah dikenal pada abad ke-5 sebelum masehi, yaitu Kerajaan Colchis dan pada abad ke-3 sebelum masehi Kerajaan Kartli-Iberia, dan secara berurutan, Georgia pernah dikuasai oleh Arab, Persia, Turki dan Uni Soviet. Dengan luas wilayah 70.000 km2, dua kali luas wilayah Belgia atau Swiss, Republik Georgia mempunyai iklim yang moderat dan hangat. Negara ini berbatasan dengan Rusia, Turki, Armenia, Azerbaijan dan Laut Hitam. Berpenduduk sekitar 4.677.401 orang, terdiri dari berbagai suku, antara lain Georgia, Azeri, Armenia, dan Rusia, mayoritas beragama Kristen Ortodox (83,9%), Islam (10%) dan lainnya 7%. Angka pertumbuhan penduduk rata-rata di bawah 0,35% per-tahun, angka kelahiran 10,25 per-1000, dan angka kematian 9,09 per-1000. Bahasa nasional mereka adalah Abkhazia, di samping bahasa Rusia, Armenia, dan Azeri.

Ekonomi
Walaupun Georgia masuk dalam wilayah Eropa Timur, namun kegiatan utama perekonomiannya didominasi oleh bidang jasa (56,9%), industri (22,6%) dan pertanian (20,5%). Pada tahun 1995, Georgia mengajukan permohonan bantuan dana kepada IMF dan World Bank untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi. Ternyata pemerintahan Georgia dapat memanfaatkan bantuan tersebut dengan baik. Indikatornya, pertumbuhan ekonominya cukup fantastik mencapai sekitar 9,5%, inflasi hanya sebesar 5,5% dan income per-kapita sebesar US $ 3,100. Dengan angkatan kerja sebanyak 2 juta orang, 40% diserap oleh pertanian, jasa 40% dan industri 20%, Georgia merupakan salah satu negara di Eropa Timur yang cukup kaya. Produk pertaniannya berkisar pada jeruk, anggur, teh, kenari, sayuran dan binatang ternak. Sedangkan produk industrinya berkisar pada baja, pesawat terbang, alat permesinan, elektrik, tambang mangaan dan tembaga, kimia, produk perkayuan, dan anggur. Hasil komoditi yang dieksport besi tua, permesinan, kimia, minyak hasil olahan, buah jeruk teh dan anggur. Negara tujuan eksport adalah Turki, Rusia, Spanyol, Turkmenistan, Armenia dan Yunani. Sedangkan komoditi yang diimport adalah minyak, permesinan, peralatan transportasi, padia-padian dan produk makanan, serta farmasi. Import berasal dari Amerika Serikat, Turki, Rusia, Jerman, Inggris, Azerbaijan, Ukraina dan Italia. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang yang digunakan adalah Lari (GEL), dan US $ 1,- senilai 1,9167 Lari (GEL).

Sejarah Pemerintahan
Republic of Georgia dengan ibukotanya T’BILISI, terbagi dalam 9 regions, 9 cities dan 2 republik otonom (Abkhasia dan Ajaria), memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tanggal 9 April 1991.

Jauh sebelum memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet, pada abad ke-6 sebelum masehi, telah muncul sebuah negara pertama di Georgia, tepatnya di tepi Laut Hitam, yaitu Kingdom of Colchis dan diteruskan pada abad ke-3 sebelum masehi Kingdom of Kartli-Iberia. Selanjutnya Georgia mengalami zaman keemasan pada abad ke-11 dan ke-12 ketika King David the Buliders memerintah negara itu, yang kemudian dilanjutkan oleh cicit beliau Queen Tamara. Ketika mereka berkuasa, banyak dibangun gedung-gedung besar yang cantik seperti di Gelati dan Cardzia, serta suburnya karya kesusasteraan.

Setelah itu, kerajaan demi kerajaan terus berkembang di Georgia, antara lain pada abad ke-18 ketika King Taimuraz II dan Herekle II berkuasa, hingga King Solomon II yang memohon bantuan kepada Ratu Catherine dari Kerajaan Rusia, karena adanya penyerbuan tentara Turki. Akhirnya pada tanggal 18 Desember 1800, Tsar Paul I dari Kerajaan Rusia menganeksasi Georgia, dan untuk seterusnya, Georgia berintegrasi pada sistem pemerintahan Rusia, termasuk ketika Rusia berubah menjadi motor penggerak paham Marxis, dikenal dengan Revolusi Bolshevicks yang dikomandoi Lenin pada tahun 1917.

Integrasi dengan Uni Soviet berakhir, ketika Gorbachev mencanangkan program perestroika pada tahun 1990, yang mengakibatkan seluruh negara di sekitar Balkan yang tadinya berintegrasi dengan Uni Soviet memerdekakan diri. Pada tanggal 9 April 1991, Georgia memproklamirkan kemerdekaannya dari Uni Soviet, dan terpilih sebagai Presiden pertama Zviad Gamsakhurdia. Pemerintahan Gamskhurdia tak berumur panjang, karena pada tahun 1992 terjadi kemelut hebat, sehingga pemerintahan berpindah ke Parlemen, dan Edward Shevardnadze, mantan menteri luar negeri Uni Soviet diangkat sebagai Presiden. Pemerintahan Shevardnadze berakhir setelah terjadi Revolusi Bunga pada tahun 2004, dan akhirnya Mikheil Saakashvili terpilih sebagai presiden hingga saat ini.

Perkembangan Islam di Georgia
George Sanikidze dan Edward W. Walker, dari University of California, Berkeley, penulis artikel Islam and Islami Practices in Georgia, memberikan ilustrasi panjang lebar tentang Islam di Georgia.

Sebagaimana Rusia, mayoritas penduduk Georgia menganut agama Kristen selama berabad-abad, dan merupakan sebuah negara pertama di Eropa yang mengadopsi Kristen sebagai agama negara selama beberapa dekade.

Islam masuk ke Georgia pada abad ke-8 masehi, ketika Arab menduduki Tbilisi selama 4 dekade, dan menjadikannya sebagai ibukota emirat Islam (Nisba’ at-Tiflisi). Namun kota ini direbut kembali oleh King David IV pada tahun 1122, dan dijadikan ibukota kerajaan Kristen Georgia. Namun pada abad ke-16 dan ke-17, Islam kembali merambah Georgia, ketika Kerajaan Ottoman Turki dan Safavids Iran mengalami zaman keemasan, sehingga ketika Rusia menguasai Georgia pada abad ke-19, komunitas Islam di Georgia mencapai jumlah 20%. Namun pada sensus yang diadakan pada tahun 1989 dan 2002, jumlah pemeluk Islam di Georgia sekitar 12% (640.000). Mayoritas dari mereka menganut paham Sunni (madzhab Hanafi dan Syafi’i) dan Syi’ah.

Basis terkuat penganut Islam di Georgia adalah di Republik otonom Ajaria dan Abkhazia, Meskhetia.. Sampai dengan tahun 1770, mayoritas penduduk Republik otonom Ajaria adalah Kristen, namun ketika kekuasaan Imperium Ottoman Turki masuk ke Balkan pada abad ke-16 dan 17, dan puncak-puncaknya pada tahun 1820, penganut Islam mulai menyeruak di republik otonom tersebut. Islam di Ajaria mengalami kemunduran pesat ketika Uni Soviet mencengkeram Georgia dengan ajaran komunismenya, dan tekanan semakin menjadi-jadi setelah perang dunia kedua. Akibatnya banyak praktek agama Islam yang ditinggalkan oleh generasi muda, kini setelah Uni Soviet bangkrut, Kristen merebut peluang untuk memurtadkan mereka. Yang paling menyakitkan hati ummat Islam Ajaria adalah murtadnya tokoh politik muslim, mantan presiden otonom Ajaria, Aslan Abashidze, ke agama Kristen (tak disebutkan, tahun berapa beliau murtad). Menyusul murtadnya Aslan Abashidze, menurut laporan yang sangat terpercaya, pembangunan masjid pun mandeg selama beberapa tahun belakangan ini di Ajaria. Di Ibukota Batumi, hanya terdapat sebuah masjid, padahal gereja berdiri kokoh sebanyak 14 buah.

Islam terusir dari Abkhazia ketika Uni Soviet menguasai Georgia pada tahun 1860-an, dan memang pemeluk Islam di Abkhazia berasal dari Turki yang biasa disebut Mohajiroba. Baik di Ajaria maupun Abkhazia, para pemeluk Islam mempraktekkan Islam sesuai dengan madzhab Sunni (Hanafi). Sebagaimana di Ajaria, banyak muslim Abkhazia yang murtad ke Kristen, puncaknya ketika Uni Soviet berkuasa di Georgia antara tahun 1866-1902, sebanyak 21.236 muslim beralih ke Kristen. Seperti kata Nestor Lakoba, sekretaris pertama Partai Komunis Abkhazia, pada dasarnya orang-orang Abkhazia adalah atheis dan tak mampunyai kepercayaan, agama bagi mereka tak mempunyai arti.

Populasi muslim di Meskhetia berasal dari Turki yang masuk ke daerah tersedbut pada abad ke-16. Pengaruh Turki sangat kuat, sehingga mereka tidak mau menggunakan nama-nama Georgia bagi keluarga mereka, karena nama-nama Georgia berarti Kristen. Selama perang dunia kedua, banyak warga muslim Turki yang dideportasi ke negara asal, sekitar 100.000 orang, dan mereka mulai kembali ke Georgia pada tahun 1969. Repatriasi ini beralnjut sampai dengan tahun 1989, dan selanjutnya program repatriasi ini dikoordinasi oleh pemerintah Georgia pada tahun 1994 melalui Ministry of Refugees and Settlement.

Sedangkan ditinjau dari etnis, banyak muslim di Georgia berasal dari Turki, Azeri, Avar, Tatar, Kazakh, Uzbek dan Tajik. Etnis-etnis inilah yang mewarnai kehidupan muslimin di Georgia, di samping penduduk asli Georgia sendiri. Kebanyakan etnis yang menempati Georgia bagian timur banyak menganut paham sufi (Naqsabandiyah dan Qadiriyah).

Pada saat ini, pemerintah Georgia lebih menekankan pada toleransi dalam kehidupan beragama, oleh karena itu para pemimpin Islam di sana menyadari terhadap perubahan situasi, walaupun pada masa lalu, mereka pernah berjaya di Georgia.